Sunday, September 6, 2009

Ilusi rindu yang terbungkus

Berdiri di atas jambatan sungai Brunei menatap deretan rumah kampung Ayer sambil menyaksikan teksi air berlumba-lumba mengejar penumpang cukup mengasyikkan.Suasana kehidupan unik serta menarik perhatian tiap tetamu yang baru bertandang ke kota Darussalam.Di sebelah kanan menuju ke hulu sungai tersergam indah istana berkubah emas mengilau pandangan ketia mentari senja memancarkan cahaya.Istana Nurul Iman.
Terpegun mata memandang sebuah panorama alam yang indah dan menakjubkan. Kekayaan melimpah ruah telah terbongkar dari alam pesona cinta.Cinta Al-Khaliq pada hambaNya yang terpilih.
Tiba-tiba lamunan terhenti.Laungan azan dari masjid Omar Ali Safiuddien memporak perandakan belaian syaitan yang bertenggek ditiap pojok kalbu insani.Perlahan-lahan dia menghayun langkah menelusuri jambatan lewat lorong sempit deretan rumah atas air.Kereta dari pelbagai jenis masih lagi berbondong-bondong di jalan raya bagaikan angkatan perang semut merah menuju ke medan pertempuran.
Para penjual sayur dan buah-buahan serta Padian yang berjaja ikan dalam perahu di tepi jambatan darmaga asyik melayan pelanggan.Suara hiruk pikuk berbaur dengan deru injin kereta yang lalu-lalang.Gema azan masih kagi mengumandang megah di angkasaray lewat menara masjid berkubah emas.Sekilas ingatan membayang wajah masjid kota Darussyadah yang ditinggalkan tujuh musim dahulu.Ah,tidak mungkin.Dia telah lama hanyut bersama cerita silam yang telah lama dilupakan orang.Orang-orang yang tidak mudah mengenang kealpaan orang.Sirna.
Betapa semusim lewat dia melangkah penuh santai tanpa arah memapah luka yang membekam di dada.Dengan penuh tegar mengucapkan selamat tinggal pada lembah pergunungan.Pada sawah ladang menguning emas padi malinja.Dia tanpa berpaling menatap lambaian tangan kekasih di pelabuhan dukana biru ungu sambil membebaskan merpatik putih dalam sangkar.Lalu sekian musim itu juga rindu resah telah memidana ragajiwa kencana bianglala terluka.
Dengan penuh asyik dia bersimpuh sambil menadah tangan di bawah kubah emas masjid kota.Memohon restu Maha Pencipta pemilik segenap kasih sayang mengharapkan doa demi doa kabul pada harapan harapan harap yang terbungkus erat dalam kalbu insaniah dan ingatan itu dengan penuh santun menerpa satu demi satu ke ruang ragajiwa yang kering dan kaku.
Kota metropolitan yang amat banyak mengajar dia tentang hidup sudah lama dilupakan.Seperti dia pasrah melupakan para warga yang telah memaksa dia berangkat pergi. Sebenarnya dia bukan pengecut seperti tomahan itu.Bukan.Kalau pun ada yang tegar menyematkan ucapan itu kepadanya dia tetap tidak peduli.Sekilas pun dia tidak pernah mahu meladeninya.Dia tetap menghormati kata putus yang telah ditentukannya sendiri.Pasrah.Pun dia mengerti bahawa dia tidak pernah menzalimi diri sendiri kerana bukan dia sebagai dia harus menerima gelar itu.Persetan!Kalian tidak pernah mahu bertanya pada keringat yang telah lama kita satukan dengan tinta di atas kanvas alam.Aku bukan penderhaka.Bukan.
Ternyata dia masih bernafas malah tidak akan mati lantaran tertikam duri sembilu.Dia masih hidup bagai kuntum padi malinja dimusim panen.Meski suaranya sesekali cuma mendesis lewat angin senja Darussalam,namun ragajiwanya tetap utuh.Utuh bagaikan gunung batu berdiri megah.
Dia masih seperti dulu.Tidak pernah dia mengimpikan bintang kejora.Meskipun segunung intang dipersembahkan ke atas pangkuan,dia tidak akan berpaling sekilas pun jua.Dia tetap pasrah semadi dalam diri mengukuhkan impian sejati kerana musim sepi,musim rontok dan sekian musim telah bersemadi dalam dirinya kini.Kukuh.
Para jemaah sudah lama beredar.Dia masih lagi bersimpuh di bawah kubah emas masjid Omar Ali Saifuddien menadah tangan memohon restu Illahi dengan harapan harapan harap Rabbul Izzati mengkabulkan dia kudunya.
" Pulanglah anak rantau,ibu tuamu telah lama menunggu dengan penuh harapan rindu," suara lembut itu seperti hari-hari kelmarin mengetuk pintu hayalnya.
" You tahu Zahid? Sejak pemergianmu daerah ini kian pesat membangun bersama keringat para warga.Warga yang telah memiliki pilihan mereka sendiri.Kehilangan seorang teman sepermainan memang telah lama kami rasai,seperti robohnya bangunan lama beratap rumbia itu.Tenteramkah engkau di sana,Hid? Kenapa tiba-tiba engkau menghilang tanpa pamit dan ucap salam? Kau kecewa ?" Interogasi lembaran demi lembaran biru ungu itu menebar sinis sambil menerjah ruang resahnya rindunya kini.
"Kecewa? Masya Allah! Percintaan sejati tidak pernah mempamerkan kilawan wajah kesal kerana penyesalan dalam inti kalbu bagaikan sang nakhoda yang tidak terampunkan oleh doa-doa petualang.Persis apakah kita bisa alah pada sesal kesal?"
"Pengecut dan munafik!"
"Astagaaaa...kenapa sampai begiu,Nida?"
"Tapi,kenapa engkau berhijrah?"
"Alhamdulillah taqdir telah datang padaku dan taqdir itu jualah yang telah berlaku pada Hamlet yang duka atau pada Oeidipus Sang Raja,bulan?"
" Tapi,kita tidak lagi berada di saman Sphinx!"
"Benar.Kita sekarang berada dizaman atom,nukelear atau zaman meterialstik.Seperti juga engkau tegar melupakan janji setiamu.Lembaran biru itu telah kau lipat lalu engkau lemparkan ke dasar laut.Kau biarkan aku terpingga-pingga mentafsir persoalan demi persoalan yang tidak mungkin aku temukan maknanya.Kau tinggalkan dusun tua berhijrah ke pulau Mutiaraa tanpa pamit.Kau bangga dengan apa yang kau gapai dan begitu mudah kau melemparkan tohmah ke atas pundakku tanpa memberi laluan aku membela diri,"
Satu demi satu ketukan itu sirna.Perlahan-lahan dia mengusap kedua tangan ke wajahnya.Wajah yang telah hilang serinya sekian musim.Sebentar dia bingkas dan terus melangkah menuju ke jalan raya.Kenderaan berbagai jenis masih lagi berbondong-bondong sambil bersilang arah menuju ke utara jalan raya kota Darussalam.
Udara malam kota Darussalam menerobos masuk lewat pintu jendela kaca kamar yang terbuka.Langsir biru muda dibuai-buai angin malam.Dia masih duduk santai di ruang tamu menghadap kaca televisyen.Isteri dan puteri sulungnya sudah lama dibuai mimpi.Sesekali dia menguap namun matanya terlalu sukar dipejamkan.Fikirannya masih jauh mengembara.
"Engkau tidak perlu pulang,Zahid.Namamu telah lama sirna.Sirna bersama malam tanpa bintang,"suara itu bagaikan halalintar mendesau di kuping ingatanya.
"Ah,benarkah begitu?"
"Engkau bukan pengecut,Hid.Bicara galak itu tak usah kau gentar.Taringnya sudah tidak berbisa lagi," dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.Kopi yang masih terbaki dalam gelas dihadapannya telah lama menjadi santapan semut-semut kecil.
"Prinsip kita menecegah kebatilan dan menolak kemungkaran.Kau bisa bisa apa saja.Pertahankanlah apa yang perlu kau pertahankan.Engkau bukannya sandera yang harus pasrah.Buktikan pada semua tetangga bahawa kebenaran itu akan mensirnakan segenap nista yang mereka lemparkan,"
"Aku sedar itu,Iman.Betapa keringat kita gugur satu demi satu ke atas pasir lalu menjadi intan dan mereka seenaknya meratah dengan rakus semua hak yang bukan milik mereka.Aku rela meninggalkan daerah ini agar mereka bahagia mengaut untung atas jerih payah kita.Sekoga Tuhan akan tetap mengadili kita dengan adil dan saksama,"
"Aku kasihan padamu,Hid"
"Diam.
" Kota ini masih memerlukanmu,Hid.Lihatlah sawah dan ladang itu hijau segar di bawahterik panas mentari dan taman bunga di khaki gunung harum baunya menghimbau rindu akan layu tanpa kehadiranmu di sini.Tegarkah kau,Hid?"
Tiba-tiba saja ingatannya melayang jauh ke lembah pergunungan.Lembah pergunungan yang telah lama ditinggalkan.Suara merdu seruling bambudari pondok usang di tepi permatang bagaikan memanggil-manggil dia pulang.Pulang ke pangkuan bonda yang sudah sekian purnama memendam dukalara.Dimanakah kasih harus tertumpah,sedang kuning emas padi malinja telah lama berbunga mutiara tetap menanti huluran tangan sang warga.
Susur galur gelisah telah lama mengadun segenap madu rindu mula berkocak di tengah samudera kalbu.Lambaian suara itu bagaikan menggoncang seluruh nadi alam. Entah sejak kapan gelora hati mencanang genta rindu? Ingin sekali dia mengirim resah salam gelora rindu pada semayang angin biar pintu itu terkuak lebar.Biar awan gemawan mencorak sorotan mata dukanya dan biar warna kota tahu bahawa dia tidak pernah alah pada alam.
Bagai ada kekuatan baru yang mengisi ragajiwanya kini.Kekuatan yang bercambah dari riak madu pesona angin dingindari puncak rindu dendaknya.Pun hatinya yang terluka tetap meruap ke tiap sudut kamar hati lelakinya.Genta purba mencanang nostalgia biru ungu.Dia bukan dari kumpulan anak-anak terkucil.Jauh sekali sebagai orang terkutuk.Disambar geledek pun dia tidak gentar.Hatinya hati batu.Batu karang selat sulu.
"Ah,biru muda nyanyian camar,apakah segala cinta harus tergadai?"
"Kalau kakimu telah terhulur ke dalam lingkaran hitam kelabu sedang relung cahaya amat payah kau kecapi,maka kembalilah ke pohon iman.Di situ akan kau saksikan berjuta kemilau cinta,"
Malam telah lama membening.Di luar hujan rintik-rintik membasahi bumi Darussalam.Perlahan-lahan dia merebahkan diri di sisi isterinya.Puteri sulunya telah lama terlena sambil mendakap lengan ibunya.
"Masih adakah waktu sedang pencarian tidak pernah ada penghujungnya?" Kata hatinya kecilnya.Sebentar dia terlena dalam dakapan ilusi yang bertaut erat dalam dogma resah rindu dukana biru muda.

No comments:

Post a Comment